Rabu, 27 Juli 2016

TETRA : TUNDA



Tetra atau Technical Training adalah salah satu rangkaian dari acara Ocean waves yang dilaksakan oleh Himaika. Pada tahun ini Tetra dilaksanakan di Pulau Tunda, yaitu sebuah pulau kecil yang terletak di Laut Jawa, yakni di sebelah utara Teluk Banten. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kabupaten serang, Banten. Luas Pulau Tunda adalah sekitar 300 hektar.




Acara Tetra sendiri bertujuan untuk mengaplikasikan materi dari 3 payung keprofesian Ilmu Kelautan Unpad, yaitu Hidro-Oseanografi, Bioteknologi dan Konservasi oleh mahasiswa/i ilmu Kelautan angkatan 2015. Berhubung saya berasal dari Bioteknologi, maka artikel ini akan fokus ke pencampuran larutan.
Jumat, 2 Juni 2016 pukul  20.00 pm. kami berkumpul di gerbang BNI Unpad untuk keberangkatan menuju pulau Tunda dengan menggunakan Bis, disana kami melakukan briefing dan persiapan. Kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 5 jam, dan sampai ke karangantu pukul 3.40 am dan istrahat serta salat subuh. Setelah itu kami loading barang kekapal dan pada pukul 06.00 am. Kami berangkat menuju pulau Tunda ,perjalanan menuju pulau itu sendiri memakan waktu satu setengah jam.

Pukul 7.30 am kami sampai ke pulau Tunda. Saya agak terkejut karena dermaga dari pulau tunda banyak sampah, namun hal itu tidak menyurutkan semangat saya dalam kegiatan tetra ini. Setelah sampai di dermaga kami langsung mengambil semua barang dan menaruhnya di homestay. Kami mengganti pakaian dan sarapan pada pukul 08.00 am. Setelah makan kami melakukan briefing untuk memulai rangkaian acara yaitu pengambilan data bersama dengan tutor dari komunitas.
Bioteknologi akan mencari 3 sampel yaitu mangrove, lamun dan makroalga yang akan kami simplisia dan proses manserasi. Pertama kami menyusuri pantai selatan untuk mencari sampel mangrove, selanjutnya kami menuju pantai utara pulau tunda untuk mencari kedua sampel berikutnya yaitu lamun dan makroalga Karena kedua habitat spesies ini ada didalam air, kami harus snorkeling untuk makroalga mereka hidup pada kedalam 2 meter dalam penyusuran ini kami juga menemukan teripang.
Setelah semua sampel didapat kami kembali menuju homestay untuk melakukan identifikasi semua sampel yang kami temukan dan memilih satu spesies untuk dilakukan proses simplisia dan manserasi, setelah diidentifikasi kami mendapatkan sampel sebagai berikut:


No
Jenis
Spesies
plot
1
Mangrove
Rhizopora mucronata
S 05o 48’58,0’’
E 106o17’05,7’’
2
Lamun
Thalasia hemprichi
S 05o48’30,6’’
E 106o17’04,6’’
3
Makroalga
Ulviluca obsiluca
S 05o48’29,0’’
E 106o17’04,6’’
Neorodemala sp (black pinne)
4
Teripang
Holothuria sp

Selesai diidentifikasi semua sampel yang kami pilih akan ditindak lanjuti dalam proses simplisia dan manserasi. Dalam proses ini kami membagi tugas berdasarkan kelompok, yaitu: grup mangrove, grup lamun dan grup makroalga.



Pertama siapkan talenan dan pisau sebagai alat untuk memotong dan mencacah sampai halus sampel, proses ini harus teliti karena hasilnya mempengaruhi ke proses selanjutnya.Setelah sampel sudah berbentuk serpihan maka selanjutnya sampel harus dikeringakan namun tidak boleh terkena pancaran sinar matahari karena dapat merusak sel didalam sampel.Proses ini mebutuhkan waktu hingga sampel kering. Selama menunggu pengeringan kami yang muslim melaksanakan salat jumat di masjid pulau Tunda.Sekitar jam 3 sampel yang di simplisia sudah kering dan dapat di manserasi.


Proses selanjutnya ialah proses manserasi, disini kami akan menggunakan larutan kimia untuk menarik ekstrak dari sampel,larutan tersebut ada metanol sebagai larutan polar dan n-heksana sebagai larutan non-polar.Pertama kami memasukkan sampel kedalam tabung reaksi sebanyak kurang lebih 500 gram, selanjutnya kami mengukur larutan n-heksana, proses manserasi harus diawali dari larutan non polar karena larutan polar dapat mengambil semua zat dalam sampel yang mengakibatkan ekstrak yang diambil tidak dapat diidentifikasi. Untuk jumlah awal larutan kami menggunakan 50 ml yang diukur dengan gelas ukur dan kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi menggunakan corong lalu ditutup rapat agar tidak terjadi penguapan. Tabung reaksi yang dipakai adalah botol kaca uc-1000 yang dilapisi lakban di seluruh permukaan botol.


Dalam proses manserasi sebelum diganti kelarutan lain, rendaman sampel harus didiamkan minimal 12 jam, namun untuk menyesuakan waktu kami hanya mendiamakan sekitar 9 jam, hal ini dilakukan agar zat-zat yang ada didalam sampel dapat diekstrak secara sempurna oleh larutan kimia tersebut. Kami memulai pada pukul 3 sore maka larutan ini harus diganti pukul 12 malam.
Selama menunggu proses manserasi ini kami sekelompok melakukan aktivitas masing-masing hingga pada pukul 18.00 kami harus kembali ke homestay untuk membersihkan badan dan makan malam.
Jam 12.00 pm selagi semua anggota tetra sudah istirahat kami kelompok biotek harus melanjutkan proses selanjutnya. Disini kami harus mengganti rendaman larutan menjadi larutan polar yaitu metanol. Pertama kami mengeluarkan larutan non-polar dari tabung reaksi, larutan yang dikeluarkan sudah berubah warna karena memiliki ekstrak dari sampel dan larutan inilah yang dibutuhkan untuk proses fraksinasi di lab, ekstraknya harus diukur dengan gelas ukur dan didapatkan hasil:
Sampel
Volume ekstrak (ml)
Rhizopora mucronata
36
Thalasia hemprichi
40
Ulviluca obsiluca
40
Neorodemala sp (black pinne)
45
Holothuria sp
45

Semua ekstrak harus disimpan dalam botol baru dan dimasukkan ke dalam cool box untuk menjaga kesegaran ekstrak sampai ke laboratorium. Selanjutnya kami menggunakan lagi sampel dari proses sebelumnya dan menggunakan larutan metanol sebanyak  50 ml yang dimasukkan kedalam botol rendaman yang sudah dibersihkan aquades, kemudian kami menunggu kembali untuk proses penarikan zat selama kurang lebih 9 jam. Kami semua kembali ke homestay untuk istirahat.
Sabtu, 4 Juni 2016. Kami mengawali hari dengan salat subuh dan makan pagi pada pukul 7.30 am. Sesuai dengan jadwal kami harus mengambil ekstrak dari sampel pada pukul 9.00 am dan membeli es batu untuk menjaga suhu cool box tetap dingin.proses pengambilan ekstrak dari larutan metanol sama dengan proses sebelumnya, dan didapatkan hasil sebagai berikut:

Sampel
Volume ekstrak (ml)
Rhizopora mucronata
48
Thalasia hemprichi
48
Ulviluca obsiluca
45
Neorodemala sp (black pinne)
48
Holothuria sp
48

Setelah diukur, seluruh ekstrak di masukkan kedalam botol baru dan secepatnya dimasukkan kedalam cool box untuk mempertahankan kesegarannya. Dari hasil manserasi dapat dilihat perbedaan antara ekstrak n-heksan dan metanol yaitu volume ekstrak dan warna dari keduanya

Dapat disimpulkan bahwa metanol dapat menarik zat yang terkandung dalam sampel lebih banyak daripada n-heksan karena perbedaan sifat larutan yang terbukti dari teori LDL (Like Dissolve Like).
Dengan maka proses manserasi sudah selesai tinggal membawa semua ekstrak ke laboratorium untuk di dilakukan proses selanjutnya. Dikarenakan tugas kami sudah selesai maka saya dan teman-teman saya melakukan snorkeling di pantai utara, pantai utara dapat diakses dengan berjalan kaki melalui desa Tunda dan menyusuri hutan mangrove, pantai utara ini cukup bersih dan terumbu karang yang ada di dalamnya masih banyak walaupun ada beberapa yang sudah bleaching, biota yang menyertai juga sangat banyak dan beragam dari yang kecil sampai yang besar seperti lumba-lumba.Sampai kira-kira jam 1.00 pm kami semua naik dan kembali ke homestay untuk mandi dan salat dzuhur, selesainya kami makan siang dan mendengar briefing untuk kegiatan Tetra selanjutnya yaitu penanaman bibit mangrove.

1.30 pm seluruh peserta Tetra pergi ke pantai selatan untuk penanaman mangrove, dimana sistematika penanaman ini yaitu setiap satu meter bibit ditanam sampai hanya pucuknya yang terlihat, kegiatan ini terlihat gampang namun harus berhati-hati untuk mencari substrat yang cocok dan waspada akan capitan kepiting sehingga suasana kegiatan ini menjadi meriah. Kegiatan selanjutnya adalah Coastal cleaning yaitu kegiatan bersih-bersih pantai, dibagi atas tiga kelompok yaitu pantai utara, selatan dan timur, saya mendapatkan pantai timur. Perjalan ke pantai timur sangat jauh karena pantai ini berada di ujung dari pulau tunda sehingga perjalanan cukup melelahkan, kami melewati sawah dan hutan mangrove, setelah kami sampai kegiatan ini berada pada ruang lingkup 50 m di bibir pantai dan semua sampah yang diambil harus di catat, pantai timur ini menurut saya sangat kotor banyak sampah-sampah plastik yang bertebaran di sekitarnya kemungkinan akibat perbuatan manusia yang membuang sampah di laut dan pantai yang kemudian terbawa arus gelombang air laut dan menyebar, kami mendapat kira-kira 10 kg sampah yang kami bawa ke homestay untuk diidentifikasi, sesampainya disana kami mandi dan membereskan barang bawaan karena kapal yang akan membawa kami pulang tiba sebentar lagi.

Pukul 05.00 pm kami berkumpul di dermaga untuk loading barang dan perpisahan dengan pulau Tunda, kami semua berfoto di pintu masuk pulau juga salam kepada warga lokal. Pukul 05.30 pm kapal kami berangkat menuju ke karang antu. Walau hanya dua hari banyak ilmu dan kenangan yang saya dapat di pulau Tunda yang membuat saya ingin cepat kembali ke sana.

Sekitar pukul 07.30 kami sampai di Karang antu dan langsung pindah ke bus untuk melanjutkan perjalanan kembali ke jainangor, sembari jalan kami makan di bus. Dalam perjalanan seluruh peserta terlelap karena lelah dan begitu pula saya ketika di Jakarta saya turun bersama teman saya, karena saya ingin melaksanakan puasa hari pertama dengan keluarga saya di rumah.



Dengan ini Catatan perjalanan Ke Pulau Tunda sebagai bagian acara Tetra selesai, terima kasih telah membaca catatan ini semoga dapat diambil ilmunya dan mohon maaf biala ada salah kata. Terima kasih, Assalamualaikum Wr Wb.
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar