Tetra
atau Technical Training adalah salah satu rangkaian dari acara Ocean waves yang
dilaksakan oleh Himaika. Pada tahun ini Tetra dilaksanakan di Pulau Tunda, yaitu
sebuah pulau kecil yang terletak di Laut Jawa, yakni di sebelah utara Teluk Banten. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kabupaten serang, Banten. Luas Pulau Tunda adalah sekitar 300 hektar.
Acara
Tetra sendiri bertujuan untuk mengaplikasikan materi dari 3 payung keprofesian
Ilmu Kelautan Unpad, yaitu Hidro-Oseanografi, Bioteknologi dan Konservasi oleh
mahasiswa/i ilmu Kelautan angkatan 2015. Berhubung saya berasal dari
Bioteknologi, maka artikel ini akan fokus ke pencampuran larutan.
Jumat,
2 Juni 2016 pukul 20.00 pm. kami
berkumpul di gerbang BNI Unpad untuk keberangkatan menuju pulau Tunda dengan
menggunakan Bis, disana kami melakukan briefing dan persiapan. Kami menempuh
perjalanan selama kurang lebih 5 jam, dan sampai ke karangantu pukul 3.40 am
dan istrahat serta salat subuh. Setelah itu kami loading barang kekapal dan
pada pukul 06.00 am. Kami berangkat menuju pulau Tunda ,perjalanan menuju pulau
itu sendiri memakan waktu satu setengah jam.
Pukul 7.30 am kami sampai ke pulau Tunda. Saya agak terkejut karena dermaga dari pulau tunda banyak sampah, namun hal itu tidak menyurutkan semangat saya dalam kegiatan tetra ini. Setelah sampai di dermaga kami langsung mengambil semua barang dan menaruhnya di homestay. Kami mengganti pakaian dan sarapan pada pukul 08.00 am. Setelah makan kami melakukan briefing untuk memulai rangkaian acara yaitu pengambilan data bersama dengan tutor dari komunitas.
Bioteknologi
akan mencari 3 sampel yaitu mangrove, lamun dan makroalga yang akan kami
simplisia dan proses manserasi. Pertama kami menyusuri pantai selatan untuk
mencari sampel mangrove, selanjutnya kami menuju pantai utara pulau tunda untuk
mencari kedua sampel berikutnya yaitu lamun dan makroalga Karena kedua habitat spesies
ini ada didalam air, kami harus snorkeling untuk makroalga mereka hidup pada
kedalam 2 meter dalam penyusuran ini kami juga menemukan teripang.
Setelah
semua sampel didapat kami kembali menuju homestay untuk melakukan identifikasi
semua sampel yang kami temukan dan memilih satu spesies untuk dilakukan proses
simplisia dan manserasi, setelah diidentifikasi kami mendapatkan sampel sebagai
berikut:
No
|
Jenis
|
Spesies
|
plot
|
1
|
Mangrove
|
Rhizopora
mucronata
|
S 05o
48’58,0’’
E 106o17’05,7’’
|
2
|
Lamun
|
Thalasia
hemprichi
|
S 05o48’30,6’’
E 106o17’04,6’’
|
3
|
Makroalga
|
Ulviluca
obsiluca
|
S 05o48’29,0’’
E 106o17’04,6’’
|
Neorodemala
sp (black pinne)
|
|||
4
|
Teripang
|
Holothuria
sp
|
Selesai
diidentifikasi semua sampel yang kami pilih akan ditindak lanjuti dalam proses
simplisia dan manserasi. Dalam proses ini kami membagi tugas berdasarkan
kelompok, yaitu: grup mangrove, grup lamun dan grup makroalga.
Pertama
siapkan talenan dan pisau sebagai alat untuk memotong dan mencacah sampai halus
sampel, proses ini harus teliti karena hasilnya mempengaruhi ke proses
selanjutnya.Setelah sampel sudah berbentuk serpihan maka selanjutnya sampel
harus dikeringakan namun tidak boleh terkena pancaran sinar matahari karena
dapat merusak sel didalam sampel.Proses
ini mebutuhkan waktu hingga sampel kering. Selama menunggu pengeringan kami
yang muslim melaksanakan salat jumat di masjid pulau Tunda.Sekitar jam 3 sampel
yang di simplisia sudah kering dan dapat di manserasi.
Proses
selanjutnya ialah proses manserasi, disini kami akan menggunakan larutan kimia
untuk menarik ekstrak dari sampel,larutan tersebut ada metanol sebagai larutan
polar dan n-heksana sebagai larutan non-polar.Pertama kami memasukkan sampel
kedalam tabung reaksi sebanyak kurang lebih 500 gram, selanjutnya kami mengukur
larutan n-heksana, proses manserasi harus diawali dari larutan non polar karena
larutan polar dapat mengambil semua zat dalam sampel yang mengakibatkan ekstrak
yang diambil tidak dapat diidentifikasi. Untuk jumlah awal larutan kami
menggunakan 50 ml yang diukur dengan gelas ukur dan kemudian dimasukkan ke
dalam tabung reaksi menggunakan corong lalu ditutup rapat agar tidak terjadi
penguapan. Tabung reaksi yang dipakai adalah botol kaca uc-1000 yang dilapisi
lakban di seluruh permukaan botol.
Dalam
proses manserasi sebelum diganti kelarutan lain, rendaman sampel harus
didiamkan minimal 12 jam, namun untuk menyesuakan waktu kami hanya mendiamakan
sekitar 9 jam, hal ini dilakukan agar zat-zat yang ada didalam sampel dapat
diekstrak secara sempurna oleh larutan kimia tersebut. Kami memulai pada pukul
3 sore maka larutan ini harus diganti pukul 12 malam.
Selama
menunggu proses manserasi ini kami sekelompok melakukan aktivitas masing-masing
hingga pada pukul 18.00 kami harus kembali ke homestay untuk membersihkan badan
dan makan malam.
Jam
12.00 pm selagi semua anggota tetra sudah istirahat kami kelompok biotek harus
melanjutkan proses selanjutnya. Disini kami harus mengganti rendaman larutan
menjadi larutan polar yaitu metanol. Pertama kami mengeluarkan larutan
non-polar dari tabung reaksi, larutan yang dikeluarkan sudah berubah warna
karena memiliki ekstrak dari sampel dan larutan inilah yang dibutuhkan untuk
proses fraksinasi di lab, ekstraknya harus diukur dengan gelas ukur dan
didapatkan hasil:
Sampel
|
Volume
ekstrak (ml)
|
Rhizopora
mucronata
|
36
|
Thalasia
hemprichi
|
40
|
Ulviluca
obsiluca
|
40
|
Neorodemala
sp (black pinne)
|
45
|
Holothuria
sp
|
45
|
Semua
ekstrak harus disimpan dalam botol baru dan dimasukkan ke dalam cool box untuk
menjaga kesegaran ekstrak sampai ke laboratorium. Selanjutnya kami menggunakan
lagi sampel dari proses sebelumnya dan menggunakan larutan metanol sebanyak 50 ml yang dimasukkan kedalam botol rendaman
yang sudah dibersihkan aquades, kemudian kami menunggu kembali untuk proses
penarikan zat selama kurang lebih 9 jam. Kami semua kembali ke homestay untuk
istirahat.
Sabtu,
4 Juni 2016. Kami mengawali hari dengan salat subuh dan makan pagi pada pukul
7.30 am. Sesuai dengan jadwal kami harus mengambil ekstrak dari sampel pada
pukul 9.00 am dan membeli es batu untuk menjaga suhu cool box tetap dingin.proses
pengambilan ekstrak dari larutan metanol sama dengan proses sebelumnya, dan
didapatkan hasil sebagai berikut:
Sampel
|
Volume
ekstrak (ml)
|
Rhizopora
mucronata
|
48
|
Thalasia
hemprichi
|
48
|
Ulviluca
obsiluca
|
45
|
Neorodemala
sp (black pinne)
|
48
|
Holothuria
sp
|
48
|
Setelah
diukur, seluruh ekstrak di masukkan kedalam botol baru dan secepatnya dimasukkan
kedalam cool box untuk mempertahankan kesegarannya. Dari hasil manserasi dapat
dilihat perbedaan antara ekstrak n-heksan dan metanol yaitu volume ekstrak dan warna
dari keduanya
Dapat
disimpulkan bahwa metanol dapat menarik zat yang terkandung dalam sampel lebih
banyak daripada n-heksan karena perbedaan sifat larutan yang terbukti dari
teori LDL (Like Dissolve Like).
Dengan
maka proses manserasi sudah selesai tinggal membawa semua ekstrak ke
laboratorium untuk di dilakukan proses selanjutnya. Dikarenakan tugas kami
sudah selesai maka saya dan teman-teman saya melakukan snorkeling di pantai
utara, pantai utara dapat diakses dengan berjalan kaki melalui desa Tunda dan
menyusuri hutan mangrove, pantai utara ini cukup bersih dan terumbu karang yang
ada di dalamnya masih banyak walaupun ada beberapa yang sudah bleaching, biota
yang menyertai juga sangat banyak dan beragam dari yang kecil sampai yang besar
seperti lumba-lumba.Sampai kira-kira jam 1.00 pm kami semua naik dan kembali ke
homestay untuk mandi dan salat dzuhur, selesainya kami makan siang dan
mendengar briefing untuk kegiatan Tetra selanjutnya yaitu penanaman bibit
mangrove.
1.30
pm seluruh peserta Tetra pergi ke pantai selatan untuk penanaman mangrove,
dimana sistematika penanaman ini yaitu setiap satu meter bibit ditanam sampai
hanya pucuknya yang terlihat, kegiatan ini terlihat gampang namun harus
berhati-hati untuk mencari substrat yang cocok dan waspada akan capitan
kepiting sehingga suasana kegiatan ini menjadi meriah. Kegiatan selanjutnya
adalah Coastal cleaning yaitu
kegiatan bersih-bersih pantai, dibagi atas tiga kelompok yaitu pantai utara,
selatan dan timur, saya mendapatkan pantai timur. Perjalan ke pantai timur
sangat jauh karena pantai ini berada di ujung dari pulau tunda sehingga
perjalanan cukup melelahkan, kami melewati sawah dan hutan mangrove, setelah
kami sampai kegiatan ini berada pada ruang lingkup 50 m di bibir pantai dan
semua sampah yang diambil harus di catat, pantai timur ini menurut saya sangat
kotor banyak sampah-sampah plastik yang bertebaran di sekitarnya kemungkinan
akibat perbuatan manusia yang membuang sampah di laut dan pantai yang kemudian
terbawa arus gelombang air laut dan menyebar, kami mendapat kira-kira 10 kg
sampah yang kami bawa ke homestay untuk diidentifikasi, sesampainya disana kami
mandi dan membereskan barang bawaan karena kapal yang akan membawa kami pulang
tiba sebentar lagi.
Pukul
05.00 pm kami berkumpul di dermaga untuk loading barang dan perpisahan dengan
pulau Tunda, kami semua berfoto di pintu masuk pulau juga salam kepada warga
lokal. Pukul 05.30 pm kapal kami berangkat menuju ke karang antu. Walau hanya
dua hari banyak ilmu dan kenangan yang saya dapat di pulau Tunda yang membuat
saya ingin cepat kembali ke sana.
Sekitar
pukul 07.30 kami sampai di Karang antu dan langsung pindah ke bus untuk
melanjutkan perjalanan kembali ke jainangor, sembari jalan kami makan di bus.
Dalam perjalanan seluruh peserta terlelap karena lelah dan begitu pula saya
ketika di Jakarta saya turun bersama teman saya, karena saya ingin melaksanakan
puasa hari pertama dengan keluarga saya di rumah.
Dengan ini Catatan perjalanan Ke Pulau Tunda sebagai bagian acara Tetra selesai, terima kasih telah membaca catatan ini semoga dapat diambil ilmunya dan mohon maaf biala ada salah kata. Terima kasih, Assalamualaikum Wr Wb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar